Bukan Diriku
By:
Naiea D’queen
Ketika itu,
malam, angin berhembus tanpa kehalusan sentuhannya. Udara malam merasuk ke
setiap ruang tubuhku. Ketika kulihat rembulan, ia hanya diam. Seiring waktu
berlalu, ketika aku hanya bisa terdiam dalam sejuta tanya dan kebisuan, ketika
itu pula separuh jiwaku hilang. “Aku
gagal, bukan aku..............”, begitulah aku menghakimi diriku,
menghakimi hatiku yang terlanjur lirih dengan segala alam pikirku. Angin hanya
berhembus, jam hanya berdetak, udara yang hanya bisa masuk dan keluar untuk
sekedar memberi kehidupan padaku, dedaunan hanya terjatuh dan kemudian
membusuk. Siapa yang akan peduli? Pikirku hanya terlalu jauh untuk sekedar
merasa terabaikan.
“Aku hanya tau, tau apa yang kamu rasakan.
Tapi coba lihatlah, tangan ini hanya mampu menggenggam tangan manismu, tubuh
ini hanya membutuhkan hangatnya pelukmu. Aku ingin kamu, maafkan segala
kealfaan dan kedustaanku. Aku hanya tidak tahu seberapa jauh kamu akan terluka
seperti ini, maaf...”, dia hanya bisa berujar, ya, seperti itulah dia.
Dia adalah
lelaki yang bisa membuat mataku tidak bisa melihat lagi ke siapapun dan hanya
ada dia. Fudhla. Dia selalu memelukku erat saat air mataku menetes membasahi
dunia kecilku.
“Hanya kamu, Nay. Sekali ini saja, beri aku
kesempatan untuk mendapatkan kepercayaanmu kembali,” ucapnya. Hening.
Rembulan menyaksikan kebisuan tangisku yang mengiris luka. Teramat perih. Aku
hanya ingin dia merasakannya dan rembulan menjadi saksinya.
Saat mentari
masih belum menampakkan cahanya, langkahku kian membias dan tak terarah. Entah
apa yang diperhatikannya tentang keadaanku. Tangannya menggenggam erat
jemariku. Semakin erat. Tak mampu kutatap matanya. Tak sanggup kulihat dirinya
“Aku
lelah dengan semua hal yang sama sekali tak kumengerti, Fudhla. Kamu dan
dirinya, aku yang bahkan sedikitpun tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Aku hanya lelah. Aku harus bagaimana lagi dengan ini semua? Aku lupa dengan
semua janjimu, seakan aku tidak pernah mendengarnya. Semuanya membias. Aku
terlalu jauh denganmu, Fudhla. Aku tidak ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Sama sekali tidak ingin mendengar apapun. Sudah cukup”, tangis lirihku yang
menjelaskan semua perasaan tak jelas ini padanya.
“Aku tau, maafkan aku”, dia hanya bisa
mengucapkan hal itu.
“Setelah yang kamu lewati malam tadi, aku sudah
memaafkanmu. Sama sekali aku tidak pernah ingin menyalahkan orang lain atas rasaku.
Ini semua salahku.....”.
Tiba-tiba
pembicaraan kami terputus untuk sejenak. Dalam peluknya aku hanya bisa
merasakan detak jantungnya dalam udara pagi yang amat menusuk.
“Aku tau, aku salah, maaf, cukup maafkan aku
dan jangan lagi membisikan kata yang menyakiti hatimu. Aku tau, kamu sakit, dan
aku merasakannya”, kembali dia beralasan.
Fudhla, entah
sampai kapan lelaki ini membuat dunia kecilku berair. Aku tidak bisa melepaskannya.
Sejak kapan aku bergantung pada perhatiannya dan dia mencuri semua perhatianku,
aku tidak pernah menyadarinya. Ketika aku menyadari semua itu, air mata dan
kepedihan menjawab semua tanyaku.
“Aku sayang kamu, as always, my besties”, dia
tersenyum dan melukis senyuman di bibirku.
#To Be Continue Pemirsaa.. Let's guess what will happen after that >> ;-)