Jumat, 24 Januari 2014

Precious Notes



Bukan Diriku
By:
Naiea D’queen


Ketika itu, malam, angin berhembus tanpa kehalusan sentuhannya. Udara malam merasuk ke setiap ruang tubuhku. Ketika kulihat rembulan, ia hanya diam. Seiring waktu berlalu, ketika aku hanya bisa terdiam dalam sejuta tanya dan kebisuan, ketika itu pula separuh jiwaku hilang. “Aku gagal, bukan aku..............”, begitulah aku menghakimi diriku, menghakimi hatiku yang terlanjur lirih dengan segala alam pikirku. Angin hanya berhembus, jam hanya berdetak, udara yang hanya bisa masuk dan keluar untuk sekedar memberi kehidupan padaku, dedaunan hanya terjatuh dan kemudian membusuk. Siapa yang akan peduli? Pikirku hanya terlalu jauh untuk sekedar merasa terabaikan.

“Aku hanya tau, tau apa yang kamu rasakan. Tapi coba lihatlah, tangan ini hanya mampu menggenggam tangan manismu, tubuh ini hanya membutuhkan hangatnya pelukmu. Aku ingin kamu, maafkan segala kealfaan dan kedustaanku. Aku hanya tidak tahu seberapa jauh kamu akan terluka seperti ini, maaf...”, dia hanya bisa berujar, ya, seperti itulah dia.

Dia adalah lelaki yang bisa membuat mataku tidak bisa melihat lagi ke siapapun dan hanya ada dia. Fudhla. Dia selalu memelukku erat saat air mataku menetes membasahi dunia kecilku.

“Hanya kamu, Nay. Sekali ini saja, beri aku kesempatan untuk mendapatkan kepercayaanmu kembali,” ucapnya. Hening. Rembulan menyaksikan kebisuan tangisku yang mengiris luka. Teramat perih. Aku hanya ingin dia merasakannya dan rembulan menjadi saksinya.

Saat mentari masih belum menampakkan cahanya, langkahku kian membias dan tak terarah. Entah apa yang diperhatikannya tentang keadaanku. Tangannya menggenggam erat jemariku. Semakin erat. Tak mampu kutatap matanya. Tak sanggup kulihat dirinya

 “Aku lelah dengan semua hal yang sama sekali tak kumengerti, Fudhla. Kamu dan dirinya, aku yang bahkan sedikitpun tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Aku hanya lelah. Aku harus bagaimana lagi dengan ini semua? Aku lupa dengan semua janjimu, seakan aku tidak pernah mendengarnya. Semuanya membias. Aku terlalu jauh denganmu, Fudhla. Aku tidak ingin tahu apa yang sedang terjadi. Sama sekali tidak ingin mendengar apapun. Sudah cukup”, tangis lirihku yang menjelaskan semua perasaan tak jelas ini padanya.

“Aku tau, maafkan aku”, dia hanya bisa mengucapkan hal itu.

“Setelah yang kamu lewati malam tadi, aku sudah memaafkanmu. Sama sekali aku tidak pernah ingin menyalahkan orang lain atas rasaku. Ini semua salahku.....”.

Tiba-tiba pembicaraan kami terputus untuk sejenak. Dalam peluknya aku hanya bisa merasakan detak jantungnya dalam udara pagi yang amat menusuk.

“Aku tau, aku salah, maaf, cukup maafkan aku dan jangan lagi membisikan kata yang menyakiti hatimu. Aku tau, kamu sakit, dan aku merasakannya”, kembali dia beralasan.

Fudhla, entah sampai kapan lelaki ini membuat dunia kecilku berair. Aku tidak bisa melepaskannya. Sejak kapan aku bergantung pada perhatiannya dan dia mencuri semua perhatianku, aku tidak pernah menyadarinya. Ketika aku menyadari semua itu, air mata dan kepedihan menjawab semua tanyaku.

“Aku sayang kamu, as always, my besties”, dia tersenyum dan melukis senyuman di bibirku.


#To Be Continue Pemirsaa.. Let's guess what will happen after that >> ;-)